“Ra, jangan lupa bawakan aku jepit-jepit rambut yang bagus ya!” Kata Loly dari sebrang telepon genggamnya. “Eh aku juga lho Ra. Belikan boneka yang lucu ya!” suara Sisca di belakangnya. “Ya deh, nanti aku bawakan.” Jawabku kepada kedua sahabatku itu.
Matahari menyengat saat aku keluar dari gerbang Kedutaan Republik Korea, bergegas kulambaikan tangan kearah taksi putih yang lewat. Pulang, itulah kata yang paling tepat karena visa sudah kudapat dan lusa berangkat ke Korea. Bersama empat orang mahasiswa lainnya, aku mendapat beasiswa untuk melakukan studi persahabatan selama sebulan di Negeri Gingseng itu. Seluruh keluarga menyambut gembira kesempatan yang kudapat.
Sore itu kami sudah di bandara, pesawat akan berangkat dua jam lagi. Selain aku dari Jakarta, ada Tari dari Bandung, Bambang dan Tina dari Semarang, serta Lana mewakili Lampung. Angin musim semi menyerap saat kami mendarat di bandara Incheon. Korea Selatan. Seorang pemuda Korea memperkenalkan dirinya sebagai mahasiswa Jurusan Asia di sebuah universitas negeri Korea, dalam bahasa Indonesia yang fasih. Bola mata pemuda itu menatapku tajam dan meski hanya sekian detik saja, sudah membuat jantungku berdegup. Dalam hati aku bergumam, lumayan juga, mirip actor Hongkong pujaanku Andi Lau, tubuhnya juga sangat atletis. Tina terbahak saat kubisikan hal itu di toilet bandara. Di dalam mobil, Kim Sing Ki demikian nama pemuda itu, bilang bahwa aku akan tinggal di rumahnya selama berada di Korea. Dari ujung bangku Tina mesam-mesam melirikku.
Kami berlima tinggal terpisah di lima kota kecil yang jaraknya saling berdekatan. Keluarga Sing Ki tinggal di desa Gosan Iri di Kota Kwang-ju. Orang tuanya memiliki lima anak, Sing Ki bungsu dan belum menikah. Karena hidup sebagai petani sederhana, Sing Ki giat belajar untuk mendapatkan beasiswa di Indonesia dengan harapan suatu hari bisa bekerja di salah satu perusahaan Korea di Indonesia. Hari pertama tidak ada hal yang istimewa kecuali aku harus terus menerus disuguhi makanan khas Korea. Aku menyukai asinan sawi putih yang pedas dan belakangan baru aku ketahui namanya adalah Kimchi.
Selama tinggal di keluarga Sing Ki, hampir semua makanan yang disuguhkan mengandung daging sapi. Makanan pagi dengan sup Denjang. Makan siang dengan Kalbi. Makan malam dengan Bulgogi. Pagi itu sebelum berangkat ke kota, ibu Sing Ki membuat sup rumput laut dengan irisan daging. Dan aku hanya menyantap kue ketan putih saja. Diam-diam pula Sing Ki rupanya selalu mencuri pandang kepadaku dan itu tidak sengaja kupergoki.
“Gamsa Hamnida Ommoni!” ucapku berterima kasih sambil membungkukan badan.
“Silahkan dimakan Ira!” kata Sing Ki sambil menyodorkan mangkuk berisi kimchi.
“Oh ya terima kasih.” Jawabku tersipu.
“Oh ya Ira apa kamu mau saya ajak jalan-jalan ke pusat desa kami? Ajak Sing Ki seusai makan.
“Boleh juga, apa tidak merepotkan?”
“Aku tidak masalah. Oke besok kita pergi ke kota jam 10 pagi.” Kata Sing Ki.
“Ya jam 10.” Jawabku.
Langit musim semi terlihat cerah saat bis yang kami tumpangi melewati jalan-jalan pedesaan, terlihat bunga-bunga Krisan dan Daisy bermekaran, indah sekali. Tidak sampai setengah jam, kami pun tiba di kota yang penduduknya kebanyakan tak bisa berbahasa asing. Kami mengunjungi masjid kecil satu-satunya di kota itu. Lelah berjalan, kami mampir di kedai minuman dan Sing Ki memintaku untuk menunggunya di kedai itu sementara dia akan menajak temannya. Sudah hampir satu jam tapi Sing Ki belum kembali. Bosan menunggu, aku pun jalan-jalan di sekitar kedai dan karena mulai lapar, aku bertanya pada pegawai pom bensin, dimana ada restoran ayam siap saji. Melihat pegawai pom bensin itu bingung menjawab. Aku coba bahasa isyarat dengan mengepakan kedua lenganku seperti ayam dan berkata “Chicken”. Tapi kelihatannya ia tak mengerti yang kumaksud. “Aduh Sing Ki kemana sih?” kesalku dibuatnya.
Jam ditanganku sudah menunjukan pukul duabelas. HP-ku tertinggal di kamar saat pergi, jadi aku tak bisa menghubungi Sing Ki, dan demikian sebaliknya. Saat aku putus asa, lewat dua orang wanita yang bisa berbahasa inggris, meski sedikit. Mereka tahu restoran yang menjual masakan dari ayam di pojok jalan itu dan mengajakku makan bareng. Ternyata ayam goreng itu disajikan hanya dengan daun kol serta garam. Heh kenapa hanya garam? “Mana saus tomatnya? Tanyaku pada kedua teman baruku. “No… no… no… this is Korean Chicken.” Kata mereka tersenyum.
Akhirnya aku pulang ke rumah Sing Ki naik bis. Cowok itu meminta maaf karena harus ke rumah sakit mengantar temannya yang kecelakaan. Ia lupa bahwa aku menunggunya di kedai. Seluruh keluarganya meminta maaf dan saat kuceritakan bahwa aku mencari restoran ayam, malam itu juga keluarga Sing Ki mengajakku makan di restoran yang punya menu khas ayam: ada ayam goreng, sup ayam, ayam teriyaki, semuanya serba ayam pokoknya. Lagi-lagi Sing Ki menyodorkanku kimchi dengan sedikit memaksa. Ia tahu kalau aku sangat menyukai kimchi.
“Ira seminggu lagi kamu akan kembali ke Indonesia. Tetapi aku belum mengajakmu ke Folk Village.” Katanya saat kami duduk dibawah pohon ceri di teras rumahnya sore itu.
“Memangnya ada apa disana?”
“Kamu bisa melihat kehidupan orang Korea masa lalu disana juga ada restoran yang enak-enak.”
“Kalau tidak merepotkan aku mau kok diajak kesana.” Kataku.
“Benar Ra? Kamu sudah tak marah lagi kepadaku?”
“Aku bahkan lupa.” Kataku sambil mengacungkan jari kelingkingku.
Tiba-tiba ada perasaaan aneh saat jari kelingking kami bersatu, tanda berbaikan. Matanya yang teduh seakan penuh harapan. Ah mata itu kenapa selalu memandangku seperti itu. Seperti ada yang ingin disampaikan.
Saat di Folk Village ada peristiwa yang tidak bisa kulupakan. Sing Ki sempat merangkul pundaku. Tubuhku sedikit gemetar karena dinginnya aning. Kepalaku bersandar di dadanya, hangat. Tapi kecupannya di dahiku terasa lebih hangat. Aku tak sanggup berkata-kata. Sampai di rumah, kami lebih banyak diam. Aku tidur lebih awal, membawa mimpi-mimpi indah di Folk Village . Rasanya waktu cepat berlalu dan lusa aku harus kembali ke Indonesia. Hari itu akhirnya tiba dan kami berlima berlinang air mata meninggalkan keluarga Korea yang ramah. Ibu Sing Ki membawakanku dua wadah besar Kimchi buatannya. Tak terasa tanganku masih dalam genggaman Sing Ki, seolah ia tak mau melepaskannya meski hanya sesaat.
“Sing Ki, pesawat kami sebentar lagi akan berangkat, apa Ira tidak boleh pulang?” goda Tina melihat kedekatan kami. Sadar dengan kata- kata Tina, Sing Ki pun perlahan melepaskan gengamannya dengan tersipu.
“Eh ini tadi Ira kedinginan”. Ucap Singki beralasan.
“Jangan lupa kimchinya ya Ra.” Seru cowok bermata teduh itu.
“Ya” jawabku sambil melambaikan tangan.
Pesawat garuda GA220 pun membawaku kembali ke Indonesia. Semangkuk kimchi telah membenamkanku ke dalam cinta seorang nun jauh di seberang lautan.
Sabtu, 22 Desember 2012
Giliran Belajar Di Rumah Elis
Siang itu amat terik. Elis mengambil kunci dari tas sekolahnya. Lalu membuka pintu kamar kontrakan. Kamar, bukan rumah! Orang tua Elis hanya sanggup menyewa satu kamar berukuran 3X3 untuk tempat tinggal mereka.
Di dalam tampak sebuah kasur berlapis seperai batik. Lalu ada sebuah keranjang untuk tempat pakaian, sebuah kompor minyak tanah, sebuah panic, sebuah kuali dan sodetnya, beberapa piring, sendok, gelas, dan sebuah ember. Itulah perabotan keluarga Elis. Oh ya, ada tempat nasi dan sebuah rantang susun, karena ibu telah menyediakan makanan untuk Elis.
Elis masuk dan meletakan tasnya di lantai. Duduk di tepi kasur, dan membuka rantang susun. Ada sayur asam, tahu, tempe, ikan jambal asin dan sambel.
Hati Elis tiba-tiba kembali gundah. Terngiang percakapannya tadi dengan kawan-kawan kelompok belajarnya: Rina, Yeti, dan Dona.
“Sudah tiga kali kita belajar bersama. Sabtu besok giliran di rumah kamu ya Elis. Yang lain sudah dapat giliran.!” Kata Rina.
“Maaf, rumahku amat sempit. Kalau bisa, di tempat lain saja!” Elis tidak bisa membayangkan kalau mereka sampai datang ke rumahnya yang sangat sempit.
“Tidak apa-apa. Rumahku juga kecil kok.” Kata Dona
“Sudahlah pokoknya nanti hari Sabtu kita belajar di rumah Elis. Masa sih kita tak boleh ke rumahmu?” Rina, sang ketua kelompok memutuskan.
“Elis merendah saja. Pasti rumahnya bagus. Lihat saja seragamnya bagus, sepatunya bermerek dan tas sekolahnya mahal!” kata Yeti.
“Kalian salah. Ibuku Cuma pembantu rumah tangga. Uang yang kupakai ini adalah hadiah dari majikan ibu. Anak Pak Budiman, Siska. Sebaya denganku. Jadi kalau Siska dibelikan sesuatu, aku suka diberi juga.” Elis menjelaskan. Tapi penjelasannya tidak mengubah tekat kawan-kawannya.
Sekarang, Elis termenung sendiri di kamar kontrakannya. Ibu belum pulang. Ibu jadi pembantu di rumah keluarga Budiman, rumah besar tak jauh dari deretan kamar kontrakannya. Bapak juga bekerja di sana jadi satpam. Jadi kalau malam Bapak tidur di pos jaga rumah bos, Ibu serta elis tidur di kamar kontrakan mereka.
Sore hari ibu pulang. Elis langsung menceritakan masalahnya.
“Biar nanti ibu kosongkan kamar ini dan gelar tikar. Barang-barang kita titipkan di rumah Pak Min!” kata ibu. Pak Min adalah pemilik kamar kontrakan.
“Terima kasih bu. Untung ibu banyak akal. Kita suguhkan kue dan minuman ya bu. Di rumah lain juga begitu.” Kata Elis.
“Sekolahmu kan tidak begitu jauh. Lebih baik kalian datang langsung dari sekolah saja. Nanti ibu sediakan makan siang.” Kata Ibu.
“Aaah, ibu biayanya kan besar. Lagi pula piring dan gelas kita mana cukup.” Kata Elis.
“Uang ibu cukup kok. Masalah piring soal mudah. Ibu bisa pinjam sama tetanggaa. Kita disini sudah biasa kan tolong-menolong.” Kata ibu.
Akhirnya tiba juga hari Sabtu. Berkali-kali Elis menjelaskan bahwa mereka akan belajar lesehan di lantai dan makan-makan sederhana. Juga kalau mau pipis harus ke WC umum. Namun ketiga temannya tetap saja bersemangat datang.
Setiba di kamar kontrakan, ternyata ada ibu.
“Mari masuk, anak-anak. Terima kasih mau datang ke kamar kontrakan kami yang sempit.!” Sambut ibu.
Elis terbelalak ketika melihat ruangan sudah kosong dan bersih. Diaatas tikar sudah tersedia nasi, sayur lodeh, ikan goreng, dan tempe bacem. Juga es buah. Piring dan gelasnya juga bagus-bagus. Bahkan tersedia mangkuk kobokan yang diberi jeruk limau dan serbet makan.
“Wah lezat benar. Memangnya Elis ulang tahun ya bu?” Tanya Yeti.
“Oh tidak, Cuma ini kok yang bisa ibu sediakan. Ayo cicipi.” Kata ibu riang. Anak-anak itu makan dengan lahap.
“Kamu benar-benar tinggal disini?” Tanya Rina mengaskan. Elis mengangguk.
“Aduh maafkan kami ya.”
“Ah tidak apa-apa. Kami senang kalian mau datang.”
“Kalau sduah makan kita pindah ya ke tempat majikan ibu. Keluarga Budiman sedang pergi ke puncak. Ibu sudah minta ijin dan kalian boleh belajar disana. Lebih nyaman karena ada meja dan bangku.” Kata ibu.
Setelah makan mereka pergi ke rumah majikan ibu. Halamanya luas, rumahnya juga besar. Anak-anak duduk di ruangan mewah dengan meja dan bangku yang indah. Ada pot porselen berisi tanaman hias di sudut-sudut ruangan. Sebuah piano dan akuarium ikan warna juga menghias ruangan.
“Majikan ibu kaya dan apik sekali.” Kata Rina.
“Iya kami bersyukur sekali. Tuhan sangat baik. Walaupun tinggal di kamar sempit. Tapi kami tak pernah kekurangan. Kadang-kadang aku belajar disini. Kalau Siska kesulitan membuat PR Matematika. Aku dipanggil untuk mengajarkannya.” Kata Elis.
“Wah ada guru kecil nih.” Goda Yeti. Anak-anak pun tertawa.
“Tapi, lain kali kita tidak bisa belajar disini. Ini kebetulan saja kalau kalian mau datang ibu harus menitipkan barang dulu.”
“Aku mengerti. Biar rumah kami bertiga yang mendapat giliran.” Kata Rina.
“Omong-omng kalu dilihat dari penampilan kamu pantas lho tinggal di rumah besar dan mewah ini.” Kata Dona
“Kamu tampak rapi, berih dan sehat.”
“Ibu bilang walaupun tinggal di tempat kumuh, kita harus bisa hidup bersih.” Kata Elis.
“Sudah-sudah, ayo belajar. Ngobrol saja kapan mulai belajarnya.” Tegur Rina, sang ketua kelompok.
Anak-anak mulai sibuk belajar. Elis merasa lega karena satu masalah diselesaikan dengan baik. Sekarang pastilah ibu sibuk mengangkut kasur dan barang-barang. Juga mengembalikan piring, sendok , dan gelas pinjamannya. Elis merasa makin saya pada ibu. Ibu memang hebat.
Di dalam tampak sebuah kasur berlapis seperai batik. Lalu ada sebuah keranjang untuk tempat pakaian, sebuah kompor minyak tanah, sebuah panic, sebuah kuali dan sodetnya, beberapa piring, sendok, gelas, dan sebuah ember. Itulah perabotan keluarga Elis. Oh ya, ada tempat nasi dan sebuah rantang susun, karena ibu telah menyediakan makanan untuk Elis.
Elis masuk dan meletakan tasnya di lantai. Duduk di tepi kasur, dan membuka rantang susun. Ada sayur asam, tahu, tempe, ikan jambal asin dan sambel.
Hati Elis tiba-tiba kembali gundah. Terngiang percakapannya tadi dengan kawan-kawan kelompok belajarnya: Rina, Yeti, dan Dona.
“Sudah tiga kali kita belajar bersama. Sabtu besok giliran di rumah kamu ya Elis. Yang lain sudah dapat giliran.!” Kata Rina.
“Maaf, rumahku amat sempit. Kalau bisa, di tempat lain saja!” Elis tidak bisa membayangkan kalau mereka sampai datang ke rumahnya yang sangat sempit.
“Tidak apa-apa. Rumahku juga kecil kok.” Kata Dona
“Sudahlah pokoknya nanti hari Sabtu kita belajar di rumah Elis. Masa sih kita tak boleh ke rumahmu?” Rina, sang ketua kelompok memutuskan.
“Elis merendah saja. Pasti rumahnya bagus. Lihat saja seragamnya bagus, sepatunya bermerek dan tas sekolahnya mahal!” kata Yeti.
“Kalian salah. Ibuku Cuma pembantu rumah tangga. Uang yang kupakai ini adalah hadiah dari majikan ibu. Anak Pak Budiman, Siska. Sebaya denganku. Jadi kalau Siska dibelikan sesuatu, aku suka diberi juga.” Elis menjelaskan. Tapi penjelasannya tidak mengubah tekat kawan-kawannya.
Sekarang, Elis termenung sendiri di kamar kontrakannya. Ibu belum pulang. Ibu jadi pembantu di rumah keluarga Budiman, rumah besar tak jauh dari deretan kamar kontrakannya. Bapak juga bekerja di sana jadi satpam. Jadi kalau malam Bapak tidur di pos jaga rumah bos, Ibu serta elis tidur di kamar kontrakan mereka.
Sore hari ibu pulang. Elis langsung menceritakan masalahnya.
“Biar nanti ibu kosongkan kamar ini dan gelar tikar. Barang-barang kita titipkan di rumah Pak Min!” kata ibu. Pak Min adalah pemilik kamar kontrakan.
“Terima kasih bu. Untung ibu banyak akal. Kita suguhkan kue dan minuman ya bu. Di rumah lain juga begitu.” Kata Elis.
“Sekolahmu kan tidak begitu jauh. Lebih baik kalian datang langsung dari sekolah saja. Nanti ibu sediakan makan siang.” Kata Ibu.
“Aaah, ibu biayanya kan besar. Lagi pula piring dan gelas kita mana cukup.” Kata Elis.
“Uang ibu cukup kok. Masalah piring soal mudah. Ibu bisa pinjam sama tetanggaa. Kita disini sudah biasa kan tolong-menolong.” Kata ibu.
Akhirnya tiba juga hari Sabtu. Berkali-kali Elis menjelaskan bahwa mereka akan belajar lesehan di lantai dan makan-makan sederhana. Juga kalau mau pipis harus ke WC umum. Namun ketiga temannya tetap saja bersemangat datang.
Setiba di kamar kontrakan, ternyata ada ibu.
“Mari masuk, anak-anak. Terima kasih mau datang ke kamar kontrakan kami yang sempit.!” Sambut ibu.
Elis terbelalak ketika melihat ruangan sudah kosong dan bersih. Diaatas tikar sudah tersedia nasi, sayur lodeh, ikan goreng, dan tempe bacem. Juga es buah. Piring dan gelasnya juga bagus-bagus. Bahkan tersedia mangkuk kobokan yang diberi jeruk limau dan serbet makan.
“Wah lezat benar. Memangnya Elis ulang tahun ya bu?” Tanya Yeti.
“Oh tidak, Cuma ini kok yang bisa ibu sediakan. Ayo cicipi.” Kata ibu riang. Anak-anak itu makan dengan lahap.
“Kamu benar-benar tinggal disini?” Tanya Rina mengaskan. Elis mengangguk.
“Aduh maafkan kami ya.”
“Ah tidak apa-apa. Kami senang kalian mau datang.”
“Kalau sduah makan kita pindah ya ke tempat majikan ibu. Keluarga Budiman sedang pergi ke puncak. Ibu sudah minta ijin dan kalian boleh belajar disana. Lebih nyaman karena ada meja dan bangku.” Kata ibu.
Setelah makan mereka pergi ke rumah majikan ibu. Halamanya luas, rumahnya juga besar. Anak-anak duduk di ruangan mewah dengan meja dan bangku yang indah. Ada pot porselen berisi tanaman hias di sudut-sudut ruangan. Sebuah piano dan akuarium ikan warna juga menghias ruangan.
“Majikan ibu kaya dan apik sekali.” Kata Rina.
“Iya kami bersyukur sekali. Tuhan sangat baik. Walaupun tinggal di kamar sempit. Tapi kami tak pernah kekurangan. Kadang-kadang aku belajar disini. Kalau Siska kesulitan membuat PR Matematika. Aku dipanggil untuk mengajarkannya.” Kata Elis.
“Wah ada guru kecil nih.” Goda Yeti. Anak-anak pun tertawa.
“Tapi, lain kali kita tidak bisa belajar disini. Ini kebetulan saja kalau kalian mau datang ibu harus menitipkan barang dulu.”
“Aku mengerti. Biar rumah kami bertiga yang mendapat giliran.” Kata Rina.
“Omong-omng kalu dilihat dari penampilan kamu pantas lho tinggal di rumah besar dan mewah ini.” Kata Dona
“Kamu tampak rapi, berih dan sehat.”
“Ibu bilang walaupun tinggal di tempat kumuh, kita harus bisa hidup bersih.” Kata Elis.
“Sudah-sudah, ayo belajar. Ngobrol saja kapan mulai belajarnya.” Tegur Rina, sang ketua kelompok.
Anak-anak mulai sibuk belajar. Elis merasa lega karena satu masalah diselesaikan dengan baik. Sekarang pastilah ibu sibuk mengangkut kasur dan barang-barang. Juga mengembalikan piring, sendok , dan gelas pinjamannya. Elis merasa makin saya pada ibu. Ibu memang hebat.
Zodiak Si Dia
Adis duduk termenung di kantin sekolahnya. Duduk diam sambil memainkan baksonya yang sekarang sudah mangkak. Adis lagi sebal sama Rio pacarnya.
Menurut Adis, Rio itu gak tau gimana cara memperlakukan cewek dengan baik dan benar. Rio ngak pernah membelai kepala Adis saat Adis lagi sedih. Rio juga gak pernah kasih surprise apapun buat Adis. Padahal mereka sudah 6 bulan pacaran.
“Dis, kenapa lo diem aja. Baksonya udah gak karuan tuh.” Rena sahabat Adis menghampiri.
“Kepikiran Rio nih. Capek gue jadian sama dia. Dia tuh gak ngerti cara memperlakukan cewek dengan baik dan benar… parah.” Adis ngedumel.
“Dis, cowok kan punya caranya masing-masing untuk menunjukan sayangnya. Lo gak bisa mematok kalo semua cowok harus berlaku sama.”
“Huh dari pertama jadian gue udah ragu. Soalnya bintang gue itu Sagitarius dan dia Cancer. Aduh Ren, itu tuh tolak belakang abis. Tau gak.”
“Lah? Apa hubungannya ama masalah lo sekarang?” Rena mulai bingung.
“Lo gak tau apa? Menurut ramalan bintang, jadi yang namanya sagitarius itu paling gak cocok sama bintang Cancer. Jadinya kalau pacaran itu bakal susah. Huh mestinya gue sadar dari awal biar gak kejadian begini.” Adis menghela napas.
“Yaampun Adis! Lo percaya sepenuhnya sama begituan?”
“Ih, percaya gak percaya. Buktinya sekarang hubungan Sagitarius sama Cancer emang gak berjalan dengan mulus kan? Berarti ramalan bintang itu bener dong. Cancer sama Sagitarius itu emang enggak cocok.” Adis berusaha meyakinkan Rena.
“Enak aja. Ngak segitunya juga. Buktinya bintang gue Pisces, cowok gue si Vido Sagitarius. Bukankah itu juga harusnya gak cocok? Tapi, kok gue pacaran dua tahun gak bubar-bubar?”
“Ah gak tau deh, yang pasti Sagitarius sama Cancer ngak cocok. Huh harusnya gue pilih Fedric ya, bintangnya kan Leo cocok banget tuh sama Sagita.”
“Idih lo taro dimana otak lo? Milih Fedric? Ih gue sih mendingan ambil Rio kemana-mana. Biar kata Rio cuek-cuek gitu, Rio orangnya baik enggak kaya Fedric si tukang gombal itu.”
“Ah puyeng ah. Pokoknya Sagitarius sama Cancer gak cocok. Titik.” Adis mengambil konklusi untuk pembicaraannya dengan Rena, yang sebenarnya tidak jelas kebenarannya.
Sepulang sekolah Rio sudah menunggu Adis di depan pintu kelasnya. Sementara Adis yang masih bĂȘte sama Rio, seakan-akan tidak mempedulikan kehadiran Rio.
“Dis kenapa sih lo? Dari kemarin gue dicuekin?”
“Ngak ada apa-apa.” Adis menjawab Rio dengan singkat.
“Tuh kan, selalu saja begini. Kenapa sih lo ngak pernah mau bilang ke gue apa yang lo rasain? Gue jadi kambing congek yang gak tau apa-apa tentang cewek gue.” Rio terdengar putus asa menghadapi sikap Adis.
“Mendingan sekarang lo omongin semua yang lo rasain dan kita selesaikan semuanya disini sekarang juga!” Rio menarik tangan Adis menuju lorong samping kelas.
Adis mulai was-was.
“Selesain semuanya disini.” Apa maksudnya? Apa mungkin Rio minta putus?
“Ayo! Ngomong Dis! Gue bakal denger semuanya.” Nada bicara Rio setengah membentak. Membuat Adis semakin takut bicara.
“Guee… sebel….” Adis terbata-bata.
“Lo gak pernah nunjukin sayang lo sama gue. Lo gak pernah belai kepala gue ssaat gue sedih. Biar gue ngerasa tenang. Lo juga gak inget sama tanggal-tanggal penting kita. Waktu kita pertama kali satu bulanan, lo juga gak inget sama sekali. Gue gak suka kalao lo kaya gitu. Gue mau lo lebih perhatian.” Adis bicara terputus-putus. Matanya mulai mendung. Sama sekali gak berani untuk menatap wajah Rio.
Sepertinya Rio marah dan gak suk, pikir Adis dalam hati.
“Begini maksudnya?” Rio mengusap kepala Adis dengan lembut. Adis kaget setengah mati. Ternyata Rio sama sekali tidak marah. Malah Rio mendengarkan Adis sepenuh hati.
“Makasih ya, Dis. Lo udah mau ngomong semuanya. Sekarang gue jadi tau apa yang harus gue ubah. Maklum, lo cewek pertama gue, jadinya gue tau apa yang harus gue lakuin.” Wajah Rio mulai memerah.
Adis hanya bengong dan tersenyum simpul melihat wajah cowoknya yang berubah 180 derajat kemudian memeluknya.
“Ciee yang lagi hot-hotnya hahaha”
Rena dan Vido mengintip dari pinggiran tembok dan menyaksikan semuanya dengan sempurna.
“Rena! Kurang ajar lo ngintip ya?”
“Abis gue penasaran sama lo. Gimana kisah Cancer dan Sagitarius sekarang? Ngak cocok ya?” Rena menggoda Adis.
“Sekarang Cancer dan Sagitarius udah jadi pasangan yang plaing bahagia sedunia. Hahaha.” Adis tertawa bahagia.
Menurut Adis, Rio itu gak tau gimana cara memperlakukan cewek dengan baik dan benar. Rio ngak pernah membelai kepala Adis saat Adis lagi sedih. Rio juga gak pernah kasih surprise apapun buat Adis. Padahal mereka sudah 6 bulan pacaran.
“Dis, kenapa lo diem aja. Baksonya udah gak karuan tuh.” Rena sahabat Adis menghampiri.
“Kepikiran Rio nih. Capek gue jadian sama dia. Dia tuh gak ngerti cara memperlakukan cewek dengan baik dan benar… parah.” Adis ngedumel.
“Dis, cowok kan punya caranya masing-masing untuk menunjukan sayangnya. Lo gak bisa mematok kalo semua cowok harus berlaku sama.”
“Huh dari pertama jadian gue udah ragu. Soalnya bintang gue itu Sagitarius dan dia Cancer. Aduh Ren, itu tuh tolak belakang abis. Tau gak.”
“Lah? Apa hubungannya ama masalah lo sekarang?” Rena mulai bingung.
“Lo gak tau apa? Menurut ramalan bintang, jadi yang namanya sagitarius itu paling gak cocok sama bintang Cancer. Jadinya kalau pacaran itu bakal susah. Huh mestinya gue sadar dari awal biar gak kejadian begini.” Adis menghela napas.
“Yaampun Adis! Lo percaya sepenuhnya sama begituan?”
“Ih, percaya gak percaya. Buktinya sekarang hubungan Sagitarius sama Cancer emang gak berjalan dengan mulus kan? Berarti ramalan bintang itu bener dong. Cancer sama Sagitarius itu emang enggak cocok.” Adis berusaha meyakinkan Rena.
“Enak aja. Ngak segitunya juga. Buktinya bintang gue Pisces, cowok gue si Vido Sagitarius. Bukankah itu juga harusnya gak cocok? Tapi, kok gue pacaran dua tahun gak bubar-bubar?”
“Ah gak tau deh, yang pasti Sagitarius sama Cancer ngak cocok. Huh harusnya gue pilih Fedric ya, bintangnya kan Leo cocok banget tuh sama Sagita.”
“Idih lo taro dimana otak lo? Milih Fedric? Ih gue sih mendingan ambil Rio kemana-mana. Biar kata Rio cuek-cuek gitu, Rio orangnya baik enggak kaya Fedric si tukang gombal itu.”
“Ah puyeng ah. Pokoknya Sagitarius sama Cancer gak cocok. Titik.” Adis mengambil konklusi untuk pembicaraannya dengan Rena, yang sebenarnya tidak jelas kebenarannya.
Sepulang sekolah Rio sudah menunggu Adis di depan pintu kelasnya. Sementara Adis yang masih bĂȘte sama Rio, seakan-akan tidak mempedulikan kehadiran Rio.
“Dis kenapa sih lo? Dari kemarin gue dicuekin?”
“Ngak ada apa-apa.” Adis menjawab Rio dengan singkat.
“Tuh kan, selalu saja begini. Kenapa sih lo ngak pernah mau bilang ke gue apa yang lo rasain? Gue jadi kambing congek yang gak tau apa-apa tentang cewek gue.” Rio terdengar putus asa menghadapi sikap Adis.
“Mendingan sekarang lo omongin semua yang lo rasain dan kita selesaikan semuanya disini sekarang juga!” Rio menarik tangan Adis menuju lorong samping kelas.
Adis mulai was-was.
“Selesain semuanya disini.” Apa maksudnya? Apa mungkin Rio minta putus?
“Ayo! Ngomong Dis! Gue bakal denger semuanya.” Nada bicara Rio setengah membentak. Membuat Adis semakin takut bicara.
“Guee… sebel….” Adis terbata-bata.
“Lo gak pernah nunjukin sayang lo sama gue. Lo gak pernah belai kepala gue ssaat gue sedih. Biar gue ngerasa tenang. Lo juga gak inget sama tanggal-tanggal penting kita. Waktu kita pertama kali satu bulanan, lo juga gak inget sama sekali. Gue gak suka kalao lo kaya gitu. Gue mau lo lebih perhatian.” Adis bicara terputus-putus. Matanya mulai mendung. Sama sekali gak berani untuk menatap wajah Rio.
Sepertinya Rio marah dan gak suk, pikir Adis dalam hati.
“Begini maksudnya?” Rio mengusap kepala Adis dengan lembut. Adis kaget setengah mati. Ternyata Rio sama sekali tidak marah. Malah Rio mendengarkan Adis sepenuh hati.
“Makasih ya, Dis. Lo udah mau ngomong semuanya. Sekarang gue jadi tau apa yang harus gue ubah. Maklum, lo cewek pertama gue, jadinya gue tau apa yang harus gue lakuin.” Wajah Rio mulai memerah.
Adis hanya bengong dan tersenyum simpul melihat wajah cowoknya yang berubah 180 derajat kemudian memeluknya.
“Ciee yang lagi hot-hotnya hahaha”
Rena dan Vido mengintip dari pinggiran tembok dan menyaksikan semuanya dengan sempurna.
“Rena! Kurang ajar lo ngintip ya?”
“Abis gue penasaran sama lo. Gimana kisah Cancer dan Sagitarius sekarang? Ngak cocok ya?” Rena menggoda Adis.
“Sekarang Cancer dan Sagitarius udah jadi pasangan yang plaing bahagia sedunia. Hahaha.” Adis tertawa bahagia.
Uang Dalam Jaket
Uang Dalam Jaket
Kring bel sekolah berbunyi. “Ganti baju!” teriak Kiria girang. Dia memang sangat menyukai pelajaran olahraga. Soalnya mereka bisa keluar dari kelas setelah terperangkap didalamnya selama berjam-jam.
Kiria berlari memasuki ruang ganti baju perempuan diikuti dengan murid-murid perempuan yang lain.
“Lili kamu yakin mau ikut olahraga?”
Kiria mendengar salah satu teman sekelasnya berkata. Kiria menoleh. Tampak Lili yanga agak pucat dan memakai jaket sedang bicara dengan Lidya.
“Aku enggak apa-apa kok. Sudah mendingan. Daripada bosan sendirian, aku mau ikut olahraga saja.” Sahut Lili mantap.
“Oke tapi jangan capek-capek ya. Kamu istirahat di pinggir lapangan nanti.” Sahut Lidya lagi dengan penuh perhatian.
Lili mengangguk. Dia kemudian melepaskan jaketnya dan mulai berganti baju.
***
“Masukkkk.” Kiria melompat kegirangan saat dia berhasil mendapatkan angka untuk pertandingan voli yang sedang dia lakukan. Bersamaan dengan itu Pak Guru meniupkan peluit. Tanda pertandingan usai. Kiria pun berjalan ke tepi lapangan. Karena dia kini sudah “bebas tugas”. Giliran kelompok lain yang harus bermain voli.
“Kiria” terdengar suara panggilan. Kiria pun menoleh ternyata Luna dan Ota menghampirinya.
“Lho, kok kalian keluar kelas?” Tanya Kiria heran.
“Iya pelajaran kami kebetulan kosong.” Sahut Ota mewakili kakaknya.
“Kamu kembali ke ruang ganti saja, Lili, kalau kamu masih pusing.”
Seketika Kiria, Ota, dan Luna menoleh . Tampak wajah Lili semakin pucat. Lidya menuntunnya masuk ke ruang ganti kembali.
“Kenapa dia? Tanya Luna.
“Enggak enak bada dari pagi kayaknya.” Sahut Kiria.
Luna mengangguk-angguk mengerti.
“Kita ke kantin yuk sekarang!” ajaknya kemudian.
Kiria dan Ota langsung mengangguk setuju.
***
Selesai dari kantin, Kiria, Ota dan Luna hendak kembali ke lapangan olahraga. Saat itulah mereka mendengar keributan. Murid-murid kelas Kiria berkerumun. Mengerumuni Lili.
“Uang itu masih ada sebelum kita ganti baju! Aku sangat yakin” Lili tampak menangis.
“Uang?” Kiri bertanya pada dirinya sendiri dengan heran. Dia kemudian menghampiri Lili, diikuti oleh Luna dan Ota.
“Ada apa sih?” Tanya Luna ingin tahu.
“Uangku hilang di ruang ganti. Padahal uang itu untuk membayar kursus komputerku! Gimana dong? Mama pasti marah banget kalau tahu aku menghilangkannya.” Jelas Lili dengan mata berkaca-kaca.
“Aaah kita gak perlu Tanya-tanya lagi. Sudah jelas kok siapa yang mengambil.” Tiba-tiba saja Lidya berkata dengan penuh keyakinan.
Semua menatap Linda dengan penuh tanda Tanya.
Lidya menatap tajam kepada Kiria. “Pasti Kiria! Dia kan yang pergi meninggalkan lapangan di tengah pelajaran berlangsung. Cuma dia yang punya kesempatan mengambil uang itu.”
Kiria terbelalak kaget sekali. “Jangan sembarangan menuduh. AKu pergi ke kantin. Mana mungkin aku mengambil uang Lili? Luna dan Ota jadi saksi.”
“Bisa saja mereka kamu ajak kerjasama.” Sahut Lidya yakin.”
“Aku rasa kamu gak boleh menuduh sembarangan seperti itu.” Luna tiba-tiba menegahi. “Kiria memang meninggalkan lapangan saat olahraga. Tapi bisa saja uang itu sudah hilang sebelumnya. Bisa saja uang itu diambil oleh oran gyang keluar paling terakhir dari ruang ganti.”
Semua langsung terdiam. Menyadari kebenaran kata-kata Luna.
“Hayoo! Siapa yang keluar paling terakhir dari ruang ganti?” Tanya Lidya lagi.
“Aaaaku.” Hilda anak yang paling pemalu.
Lidya langsung membelalak menuduh. “Kalau begitu enggak salah lagi kamu pasti yang mengambil uang Lili. Ayo cepat kembalikan! Berani-beraninya kamu mengambil uang dari jaket Lili.”
Hilda membelalak dan menggelengkan kepalanya. “Aku gak ngambil sungguh.”
“Jangan bohong!” Lidya terus menuduh.
“Hilda tidak bohong. Tapi kamu yang bohong.”
Lidya terkejut.
“Kamu yang mengambil uang itu kan? Karena Cuma kamu yang tau kalau uang itu berada di dalam jaket Lili. Padahal tadi Lili tidak bilang dimana dia menaruh uangnya.”
Lidya tampak terperangah. Seketika itu juga Lidya menyadari kesalahannya.
“Lidya aku benar-benar gak nyangka. Kamu kan sahabat aku.” Lili menatap Lidya dengan kecewa.
Lidya menunduk dengan wajah pucat.
“Hihi rasain.”
Semua langsung menoleh. Ternyata Ota sedang tertawa sendirian.
“Ssst kamu ngapain sih?” Luna berbisik mengomeli adiknya.”
“Oh maaf maaf.” Ota memandang berkeliling dengan tampang bersalah karena karena dia memecah perhatian. “
“Kita temui pak Guru saja untuk minta pertimbangannya.” Usul Hilda.
Kring bel sekolah berbunyi. “Ganti baju!” teriak Kiria girang. Dia memang sangat menyukai pelajaran olahraga. Soalnya mereka bisa keluar dari kelas setelah terperangkap didalamnya selama berjam-jam.
Kiria berlari memasuki ruang ganti baju perempuan diikuti dengan murid-murid perempuan yang lain.
“Lili kamu yakin mau ikut olahraga?”
Kiria mendengar salah satu teman sekelasnya berkata. Kiria menoleh. Tampak Lili yanga agak pucat dan memakai jaket sedang bicara dengan Lidya.
“Aku enggak apa-apa kok. Sudah mendingan. Daripada bosan sendirian, aku mau ikut olahraga saja.” Sahut Lili mantap.
“Oke tapi jangan capek-capek ya. Kamu istirahat di pinggir lapangan nanti.” Sahut Lidya lagi dengan penuh perhatian.
Lili mengangguk. Dia kemudian melepaskan jaketnya dan mulai berganti baju.
***
“Masukkkk.” Kiria melompat kegirangan saat dia berhasil mendapatkan angka untuk pertandingan voli yang sedang dia lakukan. Bersamaan dengan itu Pak Guru meniupkan peluit. Tanda pertandingan usai. Kiria pun berjalan ke tepi lapangan. Karena dia kini sudah “bebas tugas”. Giliran kelompok lain yang harus bermain voli.
“Kiria” terdengar suara panggilan. Kiria pun menoleh ternyata Luna dan Ota menghampirinya.
“Lho, kok kalian keluar kelas?” Tanya Kiria heran.
“Iya pelajaran kami kebetulan kosong.” Sahut Ota mewakili kakaknya.
“Kamu kembali ke ruang ganti saja, Lili, kalau kamu masih pusing.”
Seketika Kiria, Ota, dan Luna menoleh . Tampak wajah Lili semakin pucat. Lidya menuntunnya masuk ke ruang ganti kembali.
“Kenapa dia? Tanya Luna.
“Enggak enak bada dari pagi kayaknya.” Sahut Kiria.
Luna mengangguk-angguk mengerti.
“Kita ke kantin yuk sekarang!” ajaknya kemudian.
Kiria dan Ota langsung mengangguk setuju.
***
Selesai dari kantin, Kiria, Ota dan Luna hendak kembali ke lapangan olahraga. Saat itulah mereka mendengar keributan. Murid-murid kelas Kiria berkerumun. Mengerumuni Lili.
“Uang itu masih ada sebelum kita ganti baju! Aku sangat yakin” Lili tampak menangis.
“Uang?” Kiri bertanya pada dirinya sendiri dengan heran. Dia kemudian menghampiri Lili, diikuti oleh Luna dan Ota.
“Ada apa sih?” Tanya Luna ingin tahu.
“Uangku hilang di ruang ganti. Padahal uang itu untuk membayar kursus komputerku! Gimana dong? Mama pasti marah banget kalau tahu aku menghilangkannya.” Jelas Lili dengan mata berkaca-kaca.
“Aaah kita gak perlu Tanya-tanya lagi. Sudah jelas kok siapa yang mengambil.” Tiba-tiba saja Lidya berkata dengan penuh keyakinan.
Semua menatap Linda dengan penuh tanda Tanya.
Lidya menatap tajam kepada Kiria. “Pasti Kiria! Dia kan yang pergi meninggalkan lapangan di tengah pelajaran berlangsung. Cuma dia yang punya kesempatan mengambil uang itu.”
Kiria terbelalak kaget sekali. “Jangan sembarangan menuduh. AKu pergi ke kantin. Mana mungkin aku mengambil uang Lili? Luna dan Ota jadi saksi.”
“Bisa saja mereka kamu ajak kerjasama.” Sahut Lidya yakin.”
“Aku rasa kamu gak boleh menuduh sembarangan seperti itu.” Luna tiba-tiba menegahi. “Kiria memang meninggalkan lapangan saat olahraga. Tapi bisa saja uang itu sudah hilang sebelumnya. Bisa saja uang itu diambil oleh oran gyang keluar paling terakhir dari ruang ganti.”
Semua langsung terdiam. Menyadari kebenaran kata-kata Luna.
“Hayoo! Siapa yang keluar paling terakhir dari ruang ganti?” Tanya Lidya lagi.
“Aaaaku.” Hilda anak yang paling pemalu.
Lidya langsung membelalak menuduh. “Kalau begitu enggak salah lagi kamu pasti yang mengambil uang Lili. Ayo cepat kembalikan! Berani-beraninya kamu mengambil uang dari jaket Lili.”
Hilda membelalak dan menggelengkan kepalanya. “Aku gak ngambil sungguh.”
“Jangan bohong!” Lidya terus menuduh.
“Hilda tidak bohong. Tapi kamu yang bohong.”
Lidya terkejut.
“Kamu yang mengambil uang itu kan? Karena Cuma kamu yang tau kalau uang itu berada di dalam jaket Lili. Padahal tadi Lili tidak bilang dimana dia menaruh uangnya.”
Lidya tampak terperangah. Seketika itu juga Lidya menyadari kesalahannya.
“Lidya aku benar-benar gak nyangka. Kamu kan sahabat aku.” Lili menatap Lidya dengan kecewa.
Lidya menunduk dengan wajah pucat.
“Hihi rasain.”
Semua langsung menoleh. Ternyata Ota sedang tertawa sendirian.
“Ssst kamu ngapain sih?” Luna berbisik mengomeli adiknya.”
“Oh maaf maaf.” Ota memandang berkeliling dengan tampang bersalah karena karena dia memecah perhatian. “
“Kita temui pak Guru saja untuk minta pertimbangannya.” Usul Hilda.
Semua mengangguk setuju. Sementara Lidya hanya bisa menunduk dengan wajah se
Nenek Sali
Nenek Sali
Siang hari itu langit terlihat mendung; Aku melangkah ringan sembari melihat pemandangan suasana pedesaan. Di kanan kiri jalan Nampak sawah-sawah dengan padi yang mulai menguning. Sedangkan di kaki langit terlihat pegunungan biru yang diselimuti arak-arakan sawah. Ini hari kedua aku berlibur di rumah kakek dan nenek. Kali ini aku terpaksa sendirian. Kak Ria, kakakku tidak bisa ikut karena harus mengikuti les persiapan UN.
Namun, beberapa saat kemudian gerimis mulai turun. Aku segera berlari pulang menuju ke rumah kakek. Namun di tengah jalan hujan turun dengan lebat. Aku terpaksa berteduh dibawah pohon besar.
Aku melihat seorang nenek duduk di teras rumah tersebut. Ia memandang ke arahku dan tersenyum. Aku pun membalas senyumnya. Lalu ia melambaikan tangan memanggilku. Wah, kebetulan. Aku segera berlari menuju rumah itu.
“Kok hujan-hujan? Kamu pasti bukan anak desa sini ya? Siapa namamu?” Tanya nenek itu.
“Iya nek. Saya cucu kakek Atmo. Nama saya Rani.” Jawabku sambil mengigil kedinginan.
“Oh cucu pak Atmo. Beliau amat ramah. O ya, panggil saya nenek Sali. Ayo masuk saja. Kamu pasti kedinginan.” Kata nenek Sali.
“Mbok Surti tolong buatkan teh hangat. Ada tamu!”
Nenek Sali menggandengku masuk ke dalam rumah. Tidak berapa lama mbok Surti keluar menghidangkan teh hangat dan makanann kecil. Mbok Surti juga membawakan handuk, untuk mengelap badanku.
Sambil menikmati teh hangat dan makanan kecil, kami pun berbincang-bincang. Ternyata nenek Sali hidup sebatang kara. Ia hanya ditemani mbok Surti, pembantu setianya. Suaminya telah meninggal lima tahun yang lalu. Ia tidak punya anak maupun sanak sodara. Menurutnya dulu ia pernah mengangkat anak yang diambil dari panti asuhan. Namun beberapa tahun kemudian anak angkatnya meninggal dunia. Karena sakit leukemia.
Kulihat nenek Sali menitikan air mata.
“Nek Sali jangan sedih ya! Anggap saja Rani cucu nenek.” Kataku menghibur.
Nenek Sali tersenyum dan mengangguk. Ia segera memelukku erat-erat. Ia Nampak terharu dan bahagia sekali.
Tidak terasa hujan telah berhenti. Aku pun berpamitan, karena khawatir kakek dan nenek kebingungan mencariku. Aku juga berjanji untuk datang lagi esok pagi.
Ketika tiba di depan warung di perempatan jalan, seorang bapak memanggilku. Aku pun menghampirinya.
“Kamu pasti cucu pak Atmo. Kamu harus hati-hati dengan Nenek Sali. Ia itu menjadi kayak arena memelihara makhluk halus. Itu sebabnya ia tidak memiliki anak. Anak angkat dan suaminya dijadikan tumbal makhluk halus peliharaannya. Sebaiknya kamu jangan pergi ke rumahnya lagi. Bisa-bisa kamu dijadikan tumbal berikutnya.” Nasihat bapak itu.
Aku jadi bergidik dan hanya bisa mengangguk mengiyakan. Aku bergegas pulang dengan bulu kuduk merinding.
Keesokan harinya badanku terasa deman. Nenek segera membawaku ke puskesmas. Menurut dokter yang memeriksaku, aku terkena influenza. Aku diberi obat dan diminta untuk beristirahat.
Selama tiga hari aku hanya bisa beristirahat di rumah. Namun dari beberapa orang yang datang, aku mendengar bahwa aku dikabarkan telah dijadikan tumbal oleh nenek Sali. Kakek dan nenek juga berusaha memberitahu bahwa aku Cuma terkena influenza.
Pada hari keempat, aku merasa sehat kembali. Aku berencana siang harinya akan datang ke rumah nenek Sali. Aku ingin meminta maaf karena tidak menepati janjiku untuk datang tiga hari yang lalu. Selain itu aku ingin meminta maaf, karena sakitku dijadikan berita yang tidak-tidak tentang nenek Sali.
Namun aku hanya bisa berencana saja. Tiba-tiba terdengar kabar bahwa nenek Sali meninggal dunia. Aku sangat sedih dan terpukul. Bersama kakek dan nenek aku mengantar nenek Sali ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Dari bisik-bisik penduduk. Aku mendengar mereka menduga bahwa nenek Sali meninggal karena gagal menjadikan aku tumbalnya. Namun aku tidak mempercayainya. Aku semakin merasa kasihan pada nenek Sali.
Keesokan harinya mbok Surti bersama Pak Rio datang menemuiku. Ternyata Pak Rio adalah seorang notaries. Pak Rio memberitahu bahwa aku dan mbok Surti dijadikan ahli waris kekayaan oleh nenek Sali. Mbok Surti telah dibelikan rumah dan sawah di desa asalnya. Sedangkan aku mendapatkan sejumlah tabungan di bank. Pak Rio juga menceritakan asal usul kekayaan nenek Sali. Kekayaan tersebut dari harta karun yang ditemukan mendiang suami nenek Sali saat menggali lubang di halaman rumahnya. Mereka merahasiakannya karena dipaksa kolektor kaya yang mengintainya dan membeli barang-barang tersebut.
“Aduh, bagaimana ini?” ujarku kebingungan.
Tentu saja aku sangat terkejut dan tidak menduga sama sekali. Tiba-tiba saja aku menjadi orang kaya. Selama beberapa hari aku berpikir tentang warisan tersebut.
Akhirnya setelah berunding dengan kakek dan nenek, aku memutuskan menjadikan rumah tersebut panti asuhan. Sedangkan sawah dan tabungannya aku serahkan untuk biaya mengelola panti asuhan tersebut. Panti asuhan itu aku beri nama Panti Asuhan Nenek Sali. Aku yakin nenek Sali setuju dan bahagia, karena sebentar lagi rumahnya akan penuh dengan anak-anak yang ceria
Namun, beberapa saat kemudian gerimis mulai turun. Aku segera berlari pulang menuju ke rumah kakek. Namun di tengah jalan hujan turun dengan lebat. Aku terpaksa berteduh dibawah pohon besar.
Aku melihat seorang nenek duduk di teras rumah tersebut. Ia memandang ke arahku dan tersenyum. Aku pun membalas senyumnya. Lalu ia melambaikan tangan memanggilku. Wah, kebetulan. Aku segera berlari menuju rumah itu.
“Kok hujan-hujan? Kamu pasti bukan anak desa sini ya? Siapa namamu?” Tanya nenek itu.
“Iya nek. Saya cucu kakek Atmo. Nama saya Rani.” Jawabku sambil mengigil kedinginan.
“Oh cucu pak Atmo. Beliau amat ramah. O ya, panggil saya nenek Sali. Ayo masuk saja. Kamu pasti kedinginan.” Kata nenek Sali.
“Mbok Surti tolong buatkan teh hangat. Ada tamu!”
Nenek Sali menggandengku masuk ke dalam rumah. Tidak berapa lama mbok Surti keluar menghidangkan teh hangat dan makanann kecil. Mbok Surti juga membawakan handuk, untuk mengelap badanku.
Sambil menikmati teh hangat dan makanan kecil, kami pun berbincang-bincang. Ternyata nenek Sali hidup sebatang kara. Ia hanya ditemani mbok Surti, pembantu setianya. Suaminya telah meninggal lima tahun yang lalu. Ia tidak punya anak maupun sanak sodara. Menurutnya dulu ia pernah mengangkat anak yang diambil dari panti asuhan. Namun beberapa tahun kemudian anak angkatnya meninggal dunia. Karena sakit leukemia.
Kulihat nenek Sali menitikan air mata.
“Nek Sali jangan sedih ya! Anggap saja Rani cucu nenek.” Kataku menghibur.
Nenek Sali tersenyum dan mengangguk. Ia segera memelukku erat-erat. Ia Nampak terharu dan bahagia sekali.
Tidak terasa hujan telah berhenti. Aku pun berpamitan, karena khawatir kakek dan nenek kebingungan mencariku. Aku juga berjanji untuk datang lagi esok pagi.
Ketika tiba di depan warung di perempatan jalan, seorang bapak memanggilku. Aku pun menghampirinya.
“Kamu pasti cucu pak Atmo. Kamu harus hati-hati dengan Nenek Sali. Ia itu menjadi kayak arena memelihara makhluk halus. Itu sebabnya ia tidak memiliki anak. Anak angkat dan suaminya dijadikan tumbal makhluk halus peliharaannya. Sebaiknya kamu jangan pergi ke rumahnya lagi. Bisa-bisa kamu dijadikan tumbal berikutnya.” Nasihat bapak itu.
Aku jadi bergidik dan hanya bisa mengangguk mengiyakan. Aku bergegas pulang dengan bulu kuduk merinding.
Keesokan harinya badanku terasa deman. Nenek segera membawaku ke puskesmas. Menurut dokter yang memeriksaku, aku terkena influenza. Aku diberi obat dan diminta untuk beristirahat.
Selama tiga hari aku hanya bisa beristirahat di rumah. Namun dari beberapa orang yang datang, aku mendengar bahwa aku dikabarkan telah dijadikan tumbal oleh nenek Sali. Kakek dan nenek juga berusaha memberitahu bahwa aku Cuma terkena influenza.
Pada hari keempat, aku merasa sehat kembali. Aku berencana siang harinya akan datang ke rumah nenek Sali. Aku ingin meminta maaf karena tidak menepati janjiku untuk datang tiga hari yang lalu. Selain itu aku ingin meminta maaf, karena sakitku dijadikan berita yang tidak-tidak tentang nenek Sali.
Namun aku hanya bisa berencana saja. Tiba-tiba terdengar kabar bahwa nenek Sali meninggal dunia. Aku sangat sedih dan terpukul. Bersama kakek dan nenek aku mengantar nenek Sali ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Dari bisik-bisik penduduk. Aku mendengar mereka menduga bahwa nenek Sali meninggal karena gagal menjadikan aku tumbalnya. Namun aku tidak mempercayainya. Aku semakin merasa kasihan pada nenek Sali.
Keesokan harinya mbok Surti bersama Pak Rio datang menemuiku. Ternyata Pak Rio adalah seorang notaries. Pak Rio memberitahu bahwa aku dan mbok Surti dijadikan ahli waris kekayaan oleh nenek Sali. Mbok Surti telah dibelikan rumah dan sawah di desa asalnya. Sedangkan aku mendapatkan sejumlah tabungan di bank. Pak Rio juga menceritakan asal usul kekayaan nenek Sali. Kekayaan tersebut dari harta karun yang ditemukan mendiang suami nenek Sali saat menggali lubang di halaman rumahnya. Mereka merahasiakannya karena dipaksa kolektor kaya yang mengintainya dan membeli barang-barang tersebut.
“Aduh, bagaimana ini?” ujarku kebingungan.
Tentu saja aku sangat terkejut dan tidak menduga sama sekali. Tiba-tiba saja aku menjadi orang kaya. Selama beberapa hari aku berpikir tentang warisan tersebut.
Akhirnya setelah berunding dengan kakek dan nenek, aku memutuskan menjadikan rumah tersebut panti asuhan. Sedangkan sawah dan tabungannya aku serahkan untuk biaya mengelola panti asuhan tersebut. Panti asuhan itu aku beri nama Panti Asuhan Nenek Sali. Aku yakin nenek Sali setuju dan bahagia, karena sebentar lagi rumahnya akan penuh dengan anak-anak yang ceria
Kamis, 20 Desember 2012
Menyulap Sampah Jadi Kompos
Kita biasa membuang sampah ke keranjang sampah. Sampah itu lalu diangkut oleh tukang sampah dan dikumpulkan di TPA. Karena penduduk kota besar cukup banyak, maka sampah-samaph itu jadi menggunung lalu membusuk dan menimbulkan penyakit. Hii...
Sampah Penyubur Tanaman
Di kota kecil, orang biasanya membuang sampah ke dalam lubang yang digali di halaman rumahny. Kalau sudah penuh lubang itu ditutup dengan tanah. Lalu orang itu membuat lagi lubang yang baru. Begitu seterusnya.
Sampah yang ditimbun dengan tanah itu akan membusuk. Berbulan-bulan kemudian sampah busuk itu berubah menjadi tanah. tanah yang terbentuk dari sampah itu disebut kompos. Jika kita menanam pohon di tanah kompos, pohon itu akan tumbuh subur.
Wah asik ya membuang sampah seperti itu. Sampah itu tidak menimbulkan penyakit, malah menyuburkan tanah. Sayang, di kota besar, kita tak bisa melakukannya sebab tanah yang kosong hampir tak ada. Halamn rumah pun umumnya sangat kecil. Aaaahh andai ada cara lain mengubah sampah jadi kompos.
Komposter si Penyulap
Eit, jangan sedih. Sekarang ada alat yang bisa mengubah sampah jadi kompos dalam waktu yang lebih singkat. Namanya komposter. Komposter sangat sederhana. Ia terbuat dari kaleng atau wadah plastik yang agak besar dan memiliki tutup. Misalnya bekas kaleng cat isi satu galon. Di bagian samping paling bawah kaleng itu dipasang keran air. Kira-kira 10 cm dari dasar kaleng ditaruh alah seperti saringan. Oh ya, sampah yang bisa dibuat kompos itu hanya sampah organik lo. Misalnya sayuran, daging, kertas dan lain-lain.
Sedangkan sampah anorganik seperti kaca, plastik, batu dan lain-lain tidak bisa. Taruhlah sampah organik itu diatas saringan. Kemudian semprotkan cairan EM$ pada sampah basah kuyup. Lalu tutuplah dengan rapat. Oh ya sampah organik itu akan lebih cepat berubah menjadi kompos apabila dipotong kecil-kecil serta ditaburi bulking agent. Yang termasuk bulking agent adalah tanah liat, dedak, jerami atau kotoran hewan.
Kalau komposer belum penuh, taruh sampah baru diatas sampah yang lama. Semprotkan lagi cairan EM4 sampai sampahnya basah kuyup serta taburi bulking agent. Begitu seterusnya sampai komposer penuh.
Setelah itu diamkan sampah di dalam komposer yang terututup rapat. Selama 4 atau 5 hari sekali sampah itu harus diaduk. Maka 2 minggu kemudian....simsalabim jadi apa prok prok *manggil pak tarno* sampah pun berubah jadi kompos yang siap dipakai untuk menanam tanaman. Jadi siramkan saja ke tanaman.
Nah itulah komposer, sebuah alat yang bisa menyulap sampah organik menjadi kompos dengan cepat tanpa bau. Komposer ini harganya sekitar 35.000 bisa dibuat sendiri juga lho :)
Berani Melawan Takut
Setiap orang punya rasa berani. Namun, setiap orang juga punya rasa takut. Teman yang paling berani pun punya rasa takut. Jadi gak usah khawatir, kalau kita juga punya rasa takut. Yang penting kita juga harus punya rasa berani. Rasa takut kita, coba kita kurangi dan hilangkan kalau bisa. Kita coba daftar rasa takut kita dan juga sebab akibatnya. Kita takut apa saja. Kenapa kita takut. Apa akibatnya. Mana seba yang bisa kita hapus. Dan mana yang bisa kita abaikan.
Maka yang tertinggal adalah rasa takut kita yang paling tinggi. Dan sebab yang paling kuat. Serta akibat yang paling merugikan. Kalau sudah ketahuan begini. Kita berlatih untuk mengurangi rasa takut itu. Dan kita harus berani.
Maka yang tertinggal adalah rasa takut kita yang paling tinggi. Dan sebab yang paling kuat. Serta akibat yang paling merugikan. Kalau sudah ketahuan begini. Kita berlatih untuk mengurangi rasa takut itu. Dan kita harus berani.
Langganan:
Postingan (Atom)